Mendengar dengan Hati, Bicara dengan Nurani

Mulutmu adalah Harimau-mu… Seseorang dipandang dari cara mereka dalam berpendapat dan mendengarkan pendapat. Jika ingin didengarkan maka belajarlah untuk mendengarkan. Demonstrasi anarkis dan (lagi-lagi) kekisruhan di parlemen kita beberapa waktu lalu menunujukkan sedikit contoh bahwa bangsa kita baru belajar berdemokrasi, berdemonstrasi, berorasi dan bersosialisasi.

Manusia dengan pola pikir yang kompleks dan rumit, tidak semua orang bisa saling memahami apa yang disukai atau tidak disukai oleh manusia lainnya. Hanya komukasi yang baik yang bisa menjembatani perbedaan pola pikir, prinsip dan kepentingan setiap orang. Angka 220 juta lebih populasi, mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 220 juta pemikiran yang berbeda, keinginan yang berbeda dan kepentingan yang berbeda pula. Kendati banyak orang telah menyadari hal tersebut, namun tidak banyak yang menganggap bahwa hal ini harus diperbaiki dan disempurnakan. Tidak mudah memang, namun apabila cukup banyak orang berpengaruh di negeri ini yang mau memperbaiki cara mereka berkomunikasi satu sama lain, niscaya masyarakat akan lebih baik pula  dalam berkomunikasi.

Memang sudah asalnya manusia umumnya memiliki sifat yang lebih suka mengeluh ketimbang bersyukur, mengkritik ketimbang menghargai, mencari-cari masalah ketimbang mecari solusi. Namun apabila itu berkaitan dengan orang lain, ada satu hal yang hendaknya diperhatikan, yaitu cara kita menyampaikan dan mengungkapkan baik secara verbal maupun visual. Cara pandang seseorang dalam menghadapi kritik dan permasalahan tentulah berbeda. Ada yang mampu memandang kritik sebagai sebuah pemacu perbaikan, namun tidak sedikit yang sangat agresif dalam menghadapi kritik. Yang terakhir inilah yang berbahaya bagi tatanan sosial politik bangsa kita.

Super Ekspresif dan Agresif

Cara super ekspresif dan agresif mahasiswa kita yang dulunya dianggap sebagai lokomotif reformasi semakin lama semakin mengundang cibiran, antipati dan penyesalan kebanyakan lapisan masyarakat. Demonstrasi yang teramat ekspresif justru merusak tatanan nilai kesopanan dan kebudayaan yang berlaku dalam masyakat kita. Ulah oknum mahasiswa atau penyusupan demonstaran non mahasiswa yang merusak fasilitas umum dan mengganggu ketertiban hanya demi keinginan untuk menyampaikan pendapat sama sekali tidak dapat dibenarkan dan pantas ditindak tegas.

Ironisnya pendidikan politik paling buruk justru ditunjukkan oleh kalangan elit kita, wakil rakyat di parlemen yang kembali ditunjukkan pada rapat-rapat hak angket Bank Century beberapa waktu yang lalu. Cara komunikasi yang sangat buruk dan dibiarkan berlarut menjadi pemicunya. Terlepas dari kesalahan segelintir orang sebagai pemicunya, namun cara yang teramat sangat tidak elegan dilakukan berkali-kali sepanjang rapat demi rapat, yang dibiayai oleh rakyat tersebut. Teriakan, ejekan, caci maki hingga bentakan yang tidak pantas pun terucapkan. Rapat-rapat yang ditonton jutaan pemirsa – termasuk anak-anak yang kebetulan menyaksikan, ditambah warga asing yang mungkin juga menyaksikan – tersebut, hanya memperlihatkan betapa kerdilnya mentalitas elit politik dan kebanyakan bangsa kita dalam menyikapi perbedaan pendapat dan menyampaikan pendapatnya.

Tidaklah bijaksana apabila pola komunikasi kita terus dibiarkan seperti ini. Setelah selotip yang selama ini menutup “mulut” bangsa ini untuk berekspresi dibuka pasca reformasi, kita ibarat orang yang baru berbuka dari puasa bicara dan berekspresi selama bertahun-tahun lamanya. Namun apapun yang berlebihan tidaklah elok. Mungkin kita masih ingat petuah orang-orang tua kita dahulu, kalau sehabis berbuka puasa janganlah makan terlalu banyak dan berlebihan, nanti bikin sakit perut. Kiranya demikian pula cara kita ber”buka” pendapat setelah bertahun-tahun terkungkung dalam berekspresi.

Kesantunan

“Mulutmu adalah Harimaumu” sebuah petuah lama yang mestinya bisa menjadi rem bagi kebajikan kita dalam menyampaikan pendapat dan ekspresi diri. Janganlah hanya demi kepentingan pribadi, kelompok dan golongan, kita merelakan bangsa dan negara ini terkorbankan.Sekali lagi bukan kritiknya yang salah, bukan pencarian kesalahannya yang salah, bukan keluhannya yang salah, tapi cara kita mengungkapkannyalah yang salah. Adalah lebih elegan apabila kita mau saling urun rembug dengan saling menghormati perbedaan pendapat satu sama lainnya. Sebuah kebebalan tidaklah bisa dilunakkan dengan pemaksaan pula, layaknya bukanlah sebuah hantaman keras ombak yang akan merontokkan batu karang. Keteladanan dan kesantunan yang terus menerus ditunjukkan dari para elit negeri ini, akan melunakkan kerasnya jiwa bangsa kita yang selama ini terpasung kebebasan berpendapatnya. Apa yang kita perlihatkan pada bangsa kita saat ini akan menjadi inspirasi bagi anak cucu kita kelak ketika giliran mereka yang menjadi pengisi negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: